Museum Batik Danar Hadi Solo

Museum Batik Danar Hadi Solo adalah sebuah museum yang menyimpan karya-karya batik kuno yang memiliki nilai sejarah dan cita rasa seni yang tinggi. Museum yang diresmikan oleh Presidean Indonesia ke-5, Megawati Sukarno Putri, pada tanggal 20 Oktober 2000 dengan nama “Galeri Batik Kuno Danar Hadi” (sekarang berubah nama menjadi Museum Batik Danar Hadi) ini terletak di Jalan Slamet Riyadi 261, Solo, Indonesia.

Jika Anda sedang jalan-jalan di ke Jawa Tengah kalau Anda singgah di Yogyakarta dan Solo sempatkanlah mampir ke museum batik yang memiliki lebih dari 10.000 koleksi kain batik kuno yang membuat Museum Batik Danar Hadi dinobatkan sebagai museum batik terbaik dan terlengkap di dunia versi Museum Rekor Indonesia (MURI).

Belajar sejarah batik Indonesia di Museum Batik Danar Hadi

Batik sudah berkembang di Indonesia sejak berabad-abad silam. Di tanah Jawa batik berkembang menjadi media ekspresi yang mengakar pada mitologi, filosofi, dan lambang dari siklus kehidupan. Perkembangan batik di Indonesia dibumbui pengaruh dari Cina dan India lewat masuknya agama Hindu dan Budha, sedangkan dari Arab dan Persia datang dengan nuansa Islam. Pengaruh ini dapat kita temui dalam ragam corak batik di pesisir utara pulau Jawa maupun di pusat kerajaan-kerajaan seperti Surakarta dan Yogyakarta.

Ragam corak batik memang tidak luput dari pengaruh perubahan lingkungan dan zaman. Sebagai hasil dari sebuah interaksi lingkungan dan zaman batik dapat kita bedakan menurut pola, corak dan warnanya. Batik Kraton memadukan budaya Hindu yang menyusup ke kraton Jawa pada abad V (lewat ornamen garuda, naga, teratai, dan pohon hayat) dengan budaya Islam yang datang sesudahnya (dengan ciri khas aneka ragam stilisasi perlambang). Batik Kraton meliputi ragam batik dari Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Pura Pakualaman, dan Pura Mangkunegaran. Batik Belanda merebak tahun 1840 dan mencapai puncak pada 1890-1910, hasil rintisan orang-orang Belanda/Eropa di kawasan pesisir utara Jawa. Warna dan ragam motifnya yang khas menghadirkan gaya individual unik dan signifikan. Batik Cina yang datang kemudian, kaya dengan ornamen oriental (ular, singa, naga, dan burung phonix) dalam warna cerah dan pastel dari sentra-sentra produksi di Pekalongan, Cirebon, Kudus, dan Demak. Untuk daerah pemasaran Surakarta dan Yogyakarta formatnya adalah Batik Dua Negri dan Batik Tiga Negri.

Berlanjut ke zaman Jepang menghasilkan Batik Jawa Hokokai, Motif dan warna mencerminkan pengaruh kuat budaya Jepang, misalnya bunga-bunga cerah di atas latar tradisional parang atau lereng. Zaman kemerdekaan menghasilkan Batik Indonesia, tuangan motif tradisional dengan isen (isian) yang dimodifikasi dan diselesaikan dengan teknik batik pesisiran. Banyak warna selain soga klasik dan motif-motif baru menghadirkan epigon Batik Modern. Batik Sudagaran muncul di akhir abad XIX, ornamennya datang dari batik klasik kraton, namun tata letak dan formatnya digubah sesuai selera para saudagar batik. Misal, motif tambal dengan modifikasi geometris, parang dengan ornamen keong diisi motif nitik.

Nuansa perkembangan corak batik ini dapat Anda temui di antara koleksi-koleksi batik yang ditampilkan di Museum Batik Danar Hadi.

Belajar proses pembuatan batik di Museum Batik Danar Hadi

Pengungjung Museum Batik Danar Hadi selain di suguhi beragam koleksi batik kuno yang menawan juga dapat menyaksikan proses pembuatan kain batik, baik batik tulis, batik cap maupun batik printing di bagian belakang museum. Bagi yang ingin lebih serius belajar tentang batik Museum Batik Danar Hadi menawarkan paket workshop pembuatan batik tulis satu warna dan paket keterampilan (batik course) selama 5 hari dengan.

Untuk paket keterampilan, hari pertama dimulai dengan mengunjungi museum batik kuno dan bangunan arsitektur jawa kuno di nDalem Wuryaningrat. Kemudian diskusi singkat mengenai batik yang terdapat di galeri. Setelah makan siang dilanjutkan dengan pembagian materi dan ditutup dengan teori jenis-jenis proses. Hari kedua, peserta akan diberikan secara berturut teori bahan baku, teori zat warna, praktek memola, dan kemudian praktek membatik. Hari ketiga dimulai lagi dengan praktek membatik yang kemudian dilanjutkan dengan praktek mencelup (coletan). Hari keempat, peserta akan diberikan praktek menutup kemudian diteruskan dengan praktek mencelup dan melorot. Di hari terakhir peserta akan diberikan praktek menutup, meyoga, melorot, dan diakhiri dengan evaluasi hasil praktek.

Leave a Reply